Keket, Pilih Brondong, dari pada bayar
20.22
Jakarta, (kepriONE)Saat dimintai sebagai model video klip oleh Aura Band, bintang model Catherine Wilson tidak memperhitungkan soal bayaran yang bakal diterimanya. Namun kualitas lagu dan status personel band yang masih brondong lebih menarik untuk diperhitungkan.
ADVERTISEMENT
"Ini bukan soal bayaran saja, tapi denger lagunya sudah enak, aku yakin lagunya bisa meledak. Aku salut sama mereka yang muda-muda ini, brondong-brondong tapi sudah kelihatan kalau mereka band yang bagus," ungkap Catherine sambil memuji.
Keket, yang ditemui di sela syuting video klip single Aura Band, Cinta Buta, di Gudang Studio, Cililitan, Jakarta Timur, Senin (2/3), terlihat sedikit lusuh. Nampak tidak begitu segar seperti biasanya, sebelum masalah perseteruannya dengan Andi Soraya masuk dalam laporan kepolisian.
Menanggapi hal itu, Keket membantah dan mengaku tidak ada perubahan dengan wajahnya. Justru karena dekat dengan personel Aura Band, dirinya merasa terhibur.
"Ah ndak lah aku kelihatan lebih fresh, itu gara-gara aku dekat sama brondong," bantah Keket setengah mengajak bercanda.
Sementara dikatakan Aura Band mendompleng ketenaran dari kasusnya, Keket menolak anggapan tersebut. Karena proses perkenalan dengan Bonie dan kawan-kawan jauh sebelum dirinya terlilit kasus itu.
"Mereka itu kenalnya itu sudah lama, sebelum ada masalah, dan tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu, orang tahu aku bukan terkenal dari masalah itu, aku kan sudah terkenal dari dulu," terang sambil tertawa.
Namun giliran ditanyakan perkembangan kasusnya, Keket menolak untuk bicara. "Aku nggak mau tahu, aku nggak mau bahas masalah itu," pungkasnya.
Mabuk Oknum Polisi Pecahkan Kaca Mobil
02.27
BATAM (kepriOne)- Bripda Rendi anggota polisi yang bertugas di Polda Kepri, Minggu (1/3/2009) memecahkan kaca belakang kiri dan kanan mobil Ford Ranger warna silver dengan nomor polisi (nompol) BP 9379 EX, milik warga ditepi jalan depan perumahan Mekar Sari sekitar pukul 07.30 WIB.
Mobil tersebut sengaja dipakirkan oleh pemilknya Trubus Waspada, setelah mengalami kerusakan pada mesin. Oknum polisi yang diduga dalam keadaan mabuk berat itu memecahkan kaca mobil dengan menggunakan batu. Setelah kaca mobil tersebut pecah oknum polisi itu langsung masuk kedalamnya dan berbaring, warga pun menganggap pelaku adalah orang gila.
Setelah beberapa warga menghampiri mobil itu baru diketahui bahwa pelaku adalah anggota polisi dan langsung menghubungi Polsek Sekupang. Tak lama berselang, beberapa anggota polisi langsung menuju tempat kejadian pekara (TKP) untuk mengamankan pelaku. Kemudian pelaku bersama barang bukti dan sepeda motor Yamaha RX King dengan nompol BP 6161 LO diamankan pihak Polsek Sekupang.
Sementara, di Polsek Sekupang terlihat Kasat Reskrim Poltabes Barelang, Kompol Himawan Bayu Aji, Kanit P3D dan beberapa petinggi Poltabes dan Polda Kepri. Kemudian pelaku dan saksi langsung diperiksa oleh penyidik polsek Sekupang.
Didik Yulianto, salah satu saksi, menyebutkan, pagi itu ia sedang mengantar istrinya kerja dan melihat ada seorang pria sedang memcahkan kaca mobil yang terparkir di depan perumahan Mekar Sari, tepatnya di samping cucian mobil atau dekat dengan Simpang Princies. Namun, Didik tidak menghiraukan kejadian itu, karena dia beranggapan bahwa saat itu adalah orang gila yang sedang memecahkan kaca mobil.
"Saya kira itu orang gila dan saya tidak hiraukan karena terburu-buru mengantarkan istri ke tempat kerja. Saya pun tidak tahu kalau kaca mobil yang dipecahkan itu adalah milik tetangga saya. Tahunya setelah pihak kepolisian memanggilnya untuk mendengarkan keterangan sebagai saksi," ujar Didik.
Saksi lainnya, Siswiadi, mengatakan, saat itu dia dan istrinya bersama abangnya Trubus Waspada dan kakak iparnya berencana akan pergi ke pasar di Nagoya. Namun, di depan simpang Princies tiba-tiba mesin mobil yang dikemudikan abannya itu mati. Kemudian mobil pun didorong ke pinggir jalan dan diparkirkan.
Siswiadi bersama abangnya mengajak untuk jalan kaki menuju pasar Tiban Centre. Kemudian setelah belanja di pasar tersebut langsung pulang ke rumahnya di Mekar Sari dan melihat mobil tersebut masih terparkir dan belum ada kaca yang pecah.
Namun, setelah sekitar 08.30 WIB ada warga yang datang ke rumah memberitahu bahwa kaca mobilnya dipecahkan orang. Langsung saja dia dan abangnya itu menuju tempat mobilnya diparkir. Ternyata sudah banyak warga dan polisi di situ. Kemudian dia bersama abangnya langsung disuruh datang ke Polsek Sekupang untuk memberikan keterangan.
"Saya tidak menyangka kalau kaca mobil akan dipecahkan orang, selain itu kita juga heran yang memecahkan kaca mobil itu adalah anggota polisi," sebut Siswiadi.
Sementara rekan-rekan satu angkatan Bripda Rendi mengaku, sebelumnya pelaku mabuk dan diusir oleh temannya dari diskotik Pasifik sekitar pukul 04.00 WIB. Dan, setelah itu teman-temannya tidak mengetahhui keberadaan pelaku. Teman wanita pelaku yang belum diketahui namanya juga mengaku, paginya pelaku mengantar dia ke rumahnya. Dia juga terkejut saat pacarnya itu dikatakan mabuk dan memecahkan mobil.
"Kalau dia mabuk, mungkin sudah jatuh saat mengahantar saya ke rumah. Tidak mungkinlah dia mabuk, kan baru saja antar saya ke rumah pagi-pagi," sebut teman wanita pelaku kepada rekan-rekannya.
Beberapa sumber di Polsek Sekupang juga menyebutkan, enam bulan lalu pelaku juga pernah memecahkan kaca mobil dinas Pemko Batam yang di parkir dekat hotel Harmoni dengan menggunakan tabung hydrant. Namun, sudah digantinya dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Himawan Bayu Aji mengatakan, saat ini sedang dilakukan penyidikan. Namun, siapa pelakunya Himawan enggan menyebutkan dan hanya menyebutkan masih dalam lidik dan setelah diketahui hasilnya akan diberitahu.
"Kita masih melakukan lidik, nanti akan tahu siapa pelakunya setelah hasilnya sudah ada," ujar Himawan kepada wartawan.
Sebelumnya, terkai masalah ini, Kapolsek Sekupang AKP Benny Alamsyah mengaku tidak berani memberikan keterangan. Benny menyarankan wartawan untuk meminta izin kepada Kapoltabes Barelang AKBP Leonidas Braskan. Namun demikian, meski wartawan telah menghubungi Kapoltabes untuk mendapatkan izin untuk konfirmasi, Benny juga belum berani memberikan keteranngan terkait oknum polisi tersebut.
Selain Kapolsek Benny belum berani beri keterangan, Ruang Banit Intelkam, tempat diamankan pelaku Bripda Rendi langsung ditutup. Kemudian, teman wanita pelaku langsung diambil air urinnya untuk dicek. Dari dalam ruangan, terdengar beberapa kali pertannyaan yang dilontarkan oleh Kanit Reskrim Polsek Sekupang S Zalukhu kepada teman wanitanya, apakah mengkonsumsi narkoba sebelumnya
Mobil tersebut sengaja dipakirkan oleh pemilknya Trubus Waspada, setelah mengalami kerusakan pada mesin. Oknum polisi yang diduga dalam keadaan mabuk berat itu memecahkan kaca mobil dengan menggunakan batu. Setelah kaca mobil tersebut pecah oknum polisi itu langsung masuk kedalamnya dan berbaring, warga pun menganggap pelaku adalah orang gila.
Setelah beberapa warga menghampiri mobil itu baru diketahui bahwa pelaku adalah anggota polisi dan langsung menghubungi Polsek Sekupang. Tak lama berselang, beberapa anggota polisi langsung menuju tempat kejadian pekara (TKP) untuk mengamankan pelaku. Kemudian pelaku bersama barang bukti dan sepeda motor Yamaha RX King dengan nompol BP 6161 LO diamankan pihak Polsek Sekupang.
Sementara, di Polsek Sekupang terlihat Kasat Reskrim Poltabes Barelang, Kompol Himawan Bayu Aji, Kanit P3D dan beberapa petinggi Poltabes dan Polda Kepri. Kemudian pelaku dan saksi langsung diperiksa oleh penyidik polsek Sekupang.
Didik Yulianto, salah satu saksi, menyebutkan, pagi itu ia sedang mengantar istrinya kerja dan melihat ada seorang pria sedang memcahkan kaca mobil yang terparkir di depan perumahan Mekar Sari, tepatnya di samping cucian mobil atau dekat dengan Simpang Princies. Namun, Didik tidak menghiraukan kejadian itu, karena dia beranggapan bahwa saat itu adalah orang gila yang sedang memecahkan kaca mobil.
"Saya kira itu orang gila dan saya tidak hiraukan karena terburu-buru mengantarkan istri ke tempat kerja. Saya pun tidak tahu kalau kaca mobil yang dipecahkan itu adalah milik tetangga saya. Tahunya setelah pihak kepolisian memanggilnya untuk mendengarkan keterangan sebagai saksi," ujar Didik.
Saksi lainnya, Siswiadi, mengatakan, saat itu dia dan istrinya bersama abangnya Trubus Waspada dan kakak iparnya berencana akan pergi ke pasar di Nagoya. Namun, di depan simpang Princies tiba-tiba mesin mobil yang dikemudikan abannya itu mati. Kemudian mobil pun didorong ke pinggir jalan dan diparkirkan.
Siswiadi bersama abangnya mengajak untuk jalan kaki menuju pasar Tiban Centre. Kemudian setelah belanja di pasar tersebut langsung pulang ke rumahnya di Mekar Sari dan melihat mobil tersebut masih terparkir dan belum ada kaca yang pecah.
Namun, setelah sekitar 08.30 WIB ada warga yang datang ke rumah memberitahu bahwa kaca mobilnya dipecahkan orang. Langsung saja dia dan abangnya itu menuju tempat mobilnya diparkir. Ternyata sudah banyak warga dan polisi di situ. Kemudian dia bersama abangnya langsung disuruh datang ke Polsek Sekupang untuk memberikan keterangan.
"Saya tidak menyangka kalau kaca mobil akan dipecahkan orang, selain itu kita juga heran yang memecahkan kaca mobil itu adalah anggota polisi," sebut Siswiadi.
Sementara rekan-rekan satu angkatan Bripda Rendi mengaku, sebelumnya pelaku mabuk dan diusir oleh temannya dari diskotik Pasifik sekitar pukul 04.00 WIB. Dan, setelah itu teman-temannya tidak mengetahhui keberadaan pelaku. Teman wanita pelaku yang belum diketahui namanya juga mengaku, paginya pelaku mengantar dia ke rumahnya. Dia juga terkejut saat pacarnya itu dikatakan mabuk dan memecahkan mobil.
"Kalau dia mabuk, mungkin sudah jatuh saat mengahantar saya ke rumah. Tidak mungkinlah dia mabuk, kan baru saja antar saya ke rumah pagi-pagi," sebut teman wanita pelaku kepada rekan-rekannya.
Beberapa sumber di Polsek Sekupang juga menyebutkan, enam bulan lalu pelaku juga pernah memecahkan kaca mobil dinas Pemko Batam yang di parkir dekat hotel Harmoni dengan menggunakan tabung hydrant. Namun, sudah digantinya dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Himawan Bayu Aji mengatakan, saat ini sedang dilakukan penyidikan. Namun, siapa pelakunya Himawan enggan menyebutkan dan hanya menyebutkan masih dalam lidik dan setelah diketahui hasilnya akan diberitahu.
"Kita masih melakukan lidik, nanti akan tahu siapa pelakunya setelah hasilnya sudah ada," ujar Himawan kepada wartawan.
Sebelumnya, terkai masalah ini, Kapolsek Sekupang AKP Benny Alamsyah mengaku tidak berani memberikan keterangan. Benny menyarankan wartawan untuk meminta izin kepada Kapoltabes Barelang AKBP Leonidas Braskan. Namun demikian, meski wartawan telah menghubungi Kapoltabes untuk mendapatkan izin untuk konfirmasi, Benny juga belum berani memberikan keteranngan terkait oknum polisi tersebut.
Selain Kapolsek Benny belum berani beri keterangan, Ruang Banit Intelkam, tempat diamankan pelaku Bripda Rendi langsung ditutup. Kemudian, teman wanita pelaku langsung diambil air urinnya untuk dicek. Dari dalam ruangan, terdengar beberapa kali pertannyaan yang dilontarkan oleh Kanit Reskrim Polsek Sekupang S Zalukhu kepada teman wanitanya, apakah mengkonsumsi narkoba sebelumnya
Mahalnya Kursi Legislatip
02.18
Oleh: Hendrianto
Hanya tinggal menghitung Hari, pesta demokrasi lima tahunan akan tiba. Sebuah pertarungan besar yang dinanti-nantikan oleh para pendulang simpati rakyat yang ingin disapa sebagai “wakil rakyat” akan tiba dalam hitungan hari. Tidak hanya di pusat, melainkan juga di tingkat propinsi, kabupaten dan kota se-Indonesia, kegitan sejenis bernama Pemilihan Umum atau lebih akrab disebut PEMILU.
Partai politik sebagai satu-satunya perahu yang akan menghantarkan para Caleg menuju singgasana impian nya. Inilah saatnya mereka habis-habisan menabur pesona atau bisa saja di singkat "PURBA"(pura pura baik) di tengah masyarakat khususnya di daerah pemilihan masing-masing. Tak pelak lagi,di setiap jalan di pelosok kota dan di desa, para Caleg pun berlomba-lomba memajang foto diri masing-masing lengkap dengan identitas partai politik dan nomor urut masing-masing.
Banyak yang berubah dalam hal kampanye menjelang Pemilu setelah memasuki era reformasi. Pada dasarnya, kampanye politik adalah sama, yakni berlomba memperebutkan hati rakyat agar mau mendukung dan memilih partai politik yang sedang digunakanya sebagai jembatan menuju gedung dewan yang terhormat itu.
Semenjak berubahnya sistem dari tiga partai menjadi multi partai serta semakin transparannya nama-nama para Caleg membuat metode kampanye semakin berwarna. Pada masa orde baru dengan notabene hanya ada tiga partai sebagai hasil fuse multi partai pada masa orde lama sangat sederhana, di mana partai hanya memajang nama partai dengan nomor urut saja tanpa disebutkan nama Caleg yang akan menggunakan partai yang bersangkutan, baik melalui baliho, atau spanduk.
Tetapi sekarang telah berubah, di mana para Caleg masing-masing melakukan terobosan sendiri dengan cara mencetak foto pribadi disertai nama partai dan nomor urutnya dengan berbagai ukuran, mulai dari ukuran baliho sampai ukuran kartu nama biasa.
Dampak yang timbul dari perubahan sistem sebagaimana dikemukakan di atas adalah di sepanjang jalan jalan utama di kota kota semakin semak dan semerawut dengan berbagai gambar dan foto-foto para Caleg yang berlomba-lomba menjual senyum kepada semua lapisan masyarakat. Sangat sulit mencari pepohonan dan tiang-tiang listrik, telepon, serta tembok yang tidak dijadikan sebagai tempat untuk menempel dan memajang foto dan tanda gambar Pemilu. Bahkan pintu pintu rumah pendudukpun jadi sasaran untuk pemasangan stiker para caleg tersebut.
Kadang kadng kita merasa geli melihat keadaan saat ini. Banyak wajah yang selama ini tidak pernah dikenal bermunculan, jual tampang untuk mensosialisasikan nama mereka kepada publik. Bukan itu saja, berbagai cara pun ditempuh. Salah satu yang paling sering digunakan adalah pemanfaatan simbol-simbol agama yang disertakan pada media yang digunakan oleh para Caleg, Ada juga yang membubuhkan dalil-dalil agama yang dikutip dari kitab suci sebuah agama.
Para Caleg yang muncul di depan publik ini pun tak kalah cerdas dalam memanfaatkan situasi dalam upaya menebar pesona. Mereka menggunakan momen-momen tertentu seperti perayaan natalan dan tahun baru, hari raya idul fitri, gong xi fa cai, bahkan situasi perang pun juga jadi sasran kampanye.
Momen-momen seperti ini untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya kepada umat beragama yang bersangkutan agar terkesan bahwa si Caleg sangat simpatik terhadap orang lain yang berbeda kepercayaan. Sesungguhnya semua itu adalah fair dan baik bila seseorang perduli dengan keberadaan orang lain dalam suka maupun duka. Namun yang menjadi pertanyaan sebenarnya adalah mengapa pada saat menjelang Pemilu baru sosok-sosok yang penuh peduli itu tampil sebagai pribadi-pribadi yang luar biasa dalam hal kesosialan, nasionalisme dan patriotismenya.
Tidaklah mengherankan bila menjelang Pemilu bermunculan dermawan-dermawan dan relawan-relawan dadakan yang tiba-tiba menawarkan budi baik dan perhatian yang sangat besar kepada sekelompok warga masyarakat untuk mengharapkan dukungan politik. Sebenarnya kehadiran para dermawan dadakan ini bisa jadi menguntungkan masyarakat setempat. Pragmatisme para Caleg yang selalu berbuat baik kepada calon masyarakat mereka sesungguhnya adalah menguntungkan masyarakat itu sendiri.
Lihat saja pada bulan rhamadhan yang lalu orang partai politik berlomba-lomba memberikan bungkusan sembako, tentu tak luput juga menyisipi kartu namanya para caleg dalam bungkusan itu. Ini adalah salah satu yang sangat positif bagi masyarakat. Mengenai apakah partai atau Caleg yang bersangkutan akan dipilih oleh masyarakat yang dibantu tersebut, tergantung pada keputusan si pemilih di bilik suara pada Pemilu mendatang.
Namun yang paling ironis dan sangat disesalkan adalah sebagian dari Caleg berperang dengan menampilkan ayat-ayat dari kitab suci dan mengatasnamakan agama hanya untuk maksud agar terpilih pada Pemilu mendatang. Tidak ada salahnya menyampaikan kebenaran isi kitab suci kepada umat beragama, tapi perlu diingat agar tidak usah memperalat agama sebagai jembatan menuju gedung dewan alias kekuasaan.
Sudah banyak terbukti anggota dewan yang pernah berkampanye dengan ayat-ayat suci ternyata mengingkari apa yang disampaikannya di depan konstituennya setelah duduk di kursi empuknya. Teori sering kali berseberangan dengan praktek politik. Itulah apa yang disebut politik, yakni perebutan kekuasaan untuk menjadi salah seorang dari pengambil kebijakan dalam berbangsa dan bernegara.
Seseorang yang memiliki niat ikhlas sebelum duduk dalam suatu jabatan pun sering menodai niat sucinya manakala dia telah memangku jabatan, apalagi seseorang yang memang telah menyembunyikan niat buruk di balik sebuah rencana perebutan kekuasaan, tentu lebih buruk dari orang yang pada mulanya berniat lurus
Persaingan berebut jabatan dengan ongkos uang dan moral yang teramat mahal. Awalnya kita sulit percaya bahwa untuk menjadi anggota legislative mesti mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah bahkan mencapai milyaran rupiah untuk menuju kekursi paling mahal di dunia tersebut
Meski kita tak percaya, lama-lama pendirian itu goyah juga setelah mendengar informasi dari sekian banyak sumber bahwa untuk memperoleh tiket dari partai politik (parpol) pendukung serta membujuk calon pemilih memang harus mengeluarkan dana berjumlah sangat fantastis.
Kalau pemasukan bersih dari gaji DPRD sekitar 20 juta per bulan dan seseorang menjabat hanya lima tahun, berarti pemasukan resmi selama menjabat hanya sebesar Rp1,2 milyar. Jadi, pertanyaan awam yang muncul, sepantas nya mereka mau mengeluarkan uang sebanyak itu selama kampanye? dan bagaimana cara pengembalian dana yang telah dikeluarkan itu? Atau, adakah mereka itu memang pejuang sekaligus dermawan yang menginginkan jabatan untuk memajukan rakyat?
Tetapi yang jelas para pemburu kekuasaan itu mau tak mau harus bersiap dengan kantong tebal, kalau dirinya tidak mau berjuang hanya untuk kalah. Itu hanya dalam konteks demokrasi yang salah
Kalau saja prinsip-prinsip demokrasi dilaksanakan konsekuen, dengan mengindahkan moralitas dan gagasan cerdas yang ditawarkan pada rakyat sebagaimana Barack Obama, pemilihan kepala daerah sebagai salah satu perwujudan demokrasi akan memberi harapan perbaikan bagi masa depan bangsa.
Lewat proses demokrasi akan terjadi seleksi putra-putri bangsa terbaik untuk membangun bangsa ini. Pada kenyataannya yang menang bukan moralitas dan gagasan serta program yang jelas dan cerdas,melainkan siapa yang punya sumber dana besar yang akan menang. Pemilihan kepala daerah berubah seperti pasar, seseorang dihargai karena duitnya. Dengan uang itu tim sukses bergerilya dan kasak-kusuk membeli dan membagi uang untuk mendapatkan dukungan.
Kejadian ini sungguh menyedihkan, semakin memperparah praktik korupsi dan kolusi yang hendak diberantas oleh cita-cita reformasi.Terlebih ketika virus uang untuk membeli dukungan ini telah masuk ke wilayah dunia pesantren dan pendidikan. Karena kiai dan tokoh agama memiliki pengaruh kuat dalam masyarakat, maka bujukan dan rayuan disertai sejumlah uang dan kendaraan mengkilat dialamatkan pada mereka ini.
Maka, tidak mengherankan banyak mantan gubernur, bupati atau wali kota, serta DPR yang terjaring KPK lalu masuk tahanan karena terbukti korupsi. Mereka mesti membayar semua modal yang telah dikeluarkan, yang jumlahnya jauh melebihi penghasilan resminya dengan jalan korupsi.
Baru saja kita dengar melalui media cetak dan elektronik beberapa hari yang lalu pengadilan negri tanjungpinang, mengadili tersangka bendahara DPRD kota tanjungpinang, Adi Purwanto karna menyangkut kasus pinjaman 24 orang anggota legislatif yang di ambil dari khas daerah pada tahun 2006 yang lalu tujuh ratus juta lebih.
Dari cuplikan kasus diatas dapat diambil sebuah kesimpulan betapa giatnya para anggota legislatif ini meburu pulus, walaupun itu byukan hak nya, tetapi yang terpints di benak mereka adalah bagaimana menyiasati pemilu yang akan datang supaya bisa mendulang sura yang sebanyak banyak berkat politik uang tersebut.
Bahwa kampanye memerlukan dana itu sudah pasti. Terutama untuk biaya perjalanan, pasang iklan, cetak brosur, sablon kaos, ongkos penyelenggaraan forum forum pertemuan dan sejenisnya. Tetapi ketika uang dibelanjakan untuk dibagi bagi semata demi membeli suara, maka yang akan menjadi pemenang bukannya gagasan dan integritas, melainkan uang.
Di sini hukum pasar berlaku, siapa berduit banyak, dia yang memiliki daya tawar tinggi.Rakyat bukannya memilih pemimpin, tetapi menggadaikan nalar sehatnya ditukar dengan uang. Belum lagi ekses konflik dan perseteruan antarpara pendukung para calon. Kalau kondisi ini berjalan terus,maka semakin sempurnalah kehancuran bangsa ini, baik oleh tangan luar maupun oleh putra-putra bangsa sendiri.
Begitu mahalnya sebuah jabatan,namun juga betapa busuk baunya.Orang mendaki jabatan yang begitu tinggi dan terjal hanya untuk mencari tempat jatuh yang juga tinggi dan amat menyakitkan.
Hanya tinggal menghitung Hari, pesta demokrasi lima tahunan akan tiba. Sebuah pertarungan besar yang dinanti-nantikan oleh para pendulang simpati rakyat yang ingin disapa sebagai “wakil rakyat” akan tiba dalam hitungan hari. Tidak hanya di pusat, melainkan juga di tingkat propinsi, kabupaten dan kota se-Indonesia, kegitan sejenis bernama Pemilihan Umum atau lebih akrab disebut PEMILU.
Partai politik sebagai satu-satunya perahu yang akan menghantarkan para Caleg menuju singgasana impian nya. Inilah saatnya mereka habis-habisan menabur pesona atau bisa saja di singkat "PURBA"(pura pura baik) di tengah masyarakat khususnya di daerah pemilihan masing-masing. Tak pelak lagi,di setiap jalan di pelosok kota dan di desa, para Caleg pun berlomba-lomba memajang foto diri masing-masing lengkap dengan identitas partai politik dan nomor urut masing-masing.
Banyak yang berubah dalam hal kampanye menjelang Pemilu setelah memasuki era reformasi. Pada dasarnya, kampanye politik adalah sama, yakni berlomba memperebutkan hati rakyat agar mau mendukung dan memilih partai politik yang sedang digunakanya sebagai jembatan menuju gedung dewan yang terhormat itu.
Semenjak berubahnya sistem dari tiga partai menjadi multi partai serta semakin transparannya nama-nama para Caleg membuat metode kampanye semakin berwarna. Pada masa orde baru dengan notabene hanya ada tiga partai sebagai hasil fuse multi partai pada masa orde lama sangat sederhana, di mana partai hanya memajang nama partai dengan nomor urut saja tanpa disebutkan nama Caleg yang akan menggunakan partai yang bersangkutan, baik melalui baliho, atau spanduk.
Tetapi sekarang telah berubah, di mana para Caleg masing-masing melakukan terobosan sendiri dengan cara mencetak foto pribadi disertai nama partai dan nomor urutnya dengan berbagai ukuran, mulai dari ukuran baliho sampai ukuran kartu nama biasa.
Dampak yang timbul dari perubahan sistem sebagaimana dikemukakan di atas adalah di sepanjang jalan jalan utama di kota kota semakin semak dan semerawut dengan berbagai gambar dan foto-foto para Caleg yang berlomba-lomba menjual senyum kepada semua lapisan masyarakat. Sangat sulit mencari pepohonan dan tiang-tiang listrik, telepon, serta tembok yang tidak dijadikan sebagai tempat untuk menempel dan memajang foto dan tanda gambar Pemilu. Bahkan pintu pintu rumah pendudukpun jadi sasaran untuk pemasangan stiker para caleg tersebut.
Kadang kadng kita merasa geli melihat keadaan saat ini. Banyak wajah yang selama ini tidak pernah dikenal bermunculan, jual tampang untuk mensosialisasikan nama mereka kepada publik. Bukan itu saja, berbagai cara pun ditempuh. Salah satu yang paling sering digunakan adalah pemanfaatan simbol-simbol agama yang disertakan pada media yang digunakan oleh para Caleg, Ada juga yang membubuhkan dalil-dalil agama yang dikutip dari kitab suci sebuah agama.
Para Caleg yang muncul di depan publik ini pun tak kalah cerdas dalam memanfaatkan situasi dalam upaya menebar pesona. Mereka menggunakan momen-momen tertentu seperti perayaan natalan dan tahun baru, hari raya idul fitri, gong xi fa cai, bahkan situasi perang pun juga jadi sasran kampanye.
Momen-momen seperti ini untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya kepada umat beragama yang bersangkutan agar terkesan bahwa si Caleg sangat simpatik terhadap orang lain yang berbeda kepercayaan. Sesungguhnya semua itu adalah fair dan baik bila seseorang perduli dengan keberadaan orang lain dalam suka maupun duka. Namun yang menjadi pertanyaan sebenarnya adalah mengapa pada saat menjelang Pemilu baru sosok-sosok yang penuh peduli itu tampil sebagai pribadi-pribadi yang luar biasa dalam hal kesosialan, nasionalisme dan patriotismenya.
Tidaklah mengherankan bila menjelang Pemilu bermunculan dermawan-dermawan dan relawan-relawan dadakan yang tiba-tiba menawarkan budi baik dan perhatian yang sangat besar kepada sekelompok warga masyarakat untuk mengharapkan dukungan politik. Sebenarnya kehadiran para dermawan dadakan ini bisa jadi menguntungkan masyarakat setempat. Pragmatisme para Caleg yang selalu berbuat baik kepada calon masyarakat mereka sesungguhnya adalah menguntungkan masyarakat itu sendiri.
Lihat saja pada bulan rhamadhan yang lalu orang partai politik berlomba-lomba memberikan bungkusan sembako, tentu tak luput juga menyisipi kartu namanya para caleg dalam bungkusan itu. Ini adalah salah satu yang sangat positif bagi masyarakat. Mengenai apakah partai atau Caleg yang bersangkutan akan dipilih oleh masyarakat yang dibantu tersebut, tergantung pada keputusan si pemilih di bilik suara pada Pemilu mendatang.
Namun yang paling ironis dan sangat disesalkan adalah sebagian dari Caleg berperang dengan menampilkan ayat-ayat dari kitab suci dan mengatasnamakan agama hanya untuk maksud agar terpilih pada Pemilu mendatang. Tidak ada salahnya menyampaikan kebenaran isi kitab suci kepada umat beragama, tapi perlu diingat agar tidak usah memperalat agama sebagai jembatan menuju gedung dewan alias kekuasaan.
Sudah banyak terbukti anggota dewan yang pernah berkampanye dengan ayat-ayat suci ternyata mengingkari apa yang disampaikannya di depan konstituennya setelah duduk di kursi empuknya. Teori sering kali berseberangan dengan praktek politik. Itulah apa yang disebut politik, yakni perebutan kekuasaan untuk menjadi salah seorang dari pengambil kebijakan dalam berbangsa dan bernegara.
Seseorang yang memiliki niat ikhlas sebelum duduk dalam suatu jabatan pun sering menodai niat sucinya manakala dia telah memangku jabatan, apalagi seseorang yang memang telah menyembunyikan niat buruk di balik sebuah rencana perebutan kekuasaan, tentu lebih buruk dari orang yang pada mulanya berniat lurus
Persaingan berebut jabatan dengan ongkos uang dan moral yang teramat mahal. Awalnya kita sulit percaya bahwa untuk menjadi anggota legislative mesti mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah bahkan mencapai milyaran rupiah untuk menuju kekursi paling mahal di dunia tersebut
Meski kita tak percaya, lama-lama pendirian itu goyah juga setelah mendengar informasi dari sekian banyak sumber bahwa untuk memperoleh tiket dari partai politik (parpol) pendukung serta membujuk calon pemilih memang harus mengeluarkan dana berjumlah sangat fantastis.
Kalau pemasukan bersih dari gaji DPRD sekitar 20 juta per bulan dan seseorang menjabat hanya lima tahun, berarti pemasukan resmi selama menjabat hanya sebesar Rp1,2 milyar. Jadi, pertanyaan awam yang muncul, sepantas nya mereka mau mengeluarkan uang sebanyak itu selama kampanye? dan bagaimana cara pengembalian dana yang telah dikeluarkan itu? Atau, adakah mereka itu memang pejuang sekaligus dermawan yang menginginkan jabatan untuk memajukan rakyat?
Tetapi yang jelas para pemburu kekuasaan itu mau tak mau harus bersiap dengan kantong tebal, kalau dirinya tidak mau berjuang hanya untuk kalah. Itu hanya dalam konteks demokrasi yang salah
Kalau saja prinsip-prinsip demokrasi dilaksanakan konsekuen, dengan mengindahkan moralitas dan gagasan cerdas yang ditawarkan pada rakyat sebagaimana Barack Obama, pemilihan kepala daerah sebagai salah satu perwujudan demokrasi akan memberi harapan perbaikan bagi masa depan bangsa.
Lewat proses demokrasi akan terjadi seleksi putra-putri bangsa terbaik untuk membangun bangsa ini. Pada kenyataannya yang menang bukan moralitas dan gagasan serta program yang jelas dan cerdas,melainkan siapa yang punya sumber dana besar yang akan menang. Pemilihan kepala daerah berubah seperti pasar, seseorang dihargai karena duitnya. Dengan uang itu tim sukses bergerilya dan kasak-kusuk membeli dan membagi uang untuk mendapatkan dukungan.
Kejadian ini sungguh menyedihkan, semakin memperparah praktik korupsi dan kolusi yang hendak diberantas oleh cita-cita reformasi.Terlebih ketika virus uang untuk membeli dukungan ini telah masuk ke wilayah dunia pesantren dan pendidikan. Karena kiai dan tokoh agama memiliki pengaruh kuat dalam masyarakat, maka bujukan dan rayuan disertai sejumlah uang dan kendaraan mengkilat dialamatkan pada mereka ini.
Maka, tidak mengherankan banyak mantan gubernur, bupati atau wali kota, serta DPR yang terjaring KPK lalu masuk tahanan karena terbukti korupsi. Mereka mesti membayar semua modal yang telah dikeluarkan, yang jumlahnya jauh melebihi penghasilan resminya dengan jalan korupsi.
Baru saja kita dengar melalui media cetak dan elektronik beberapa hari yang lalu pengadilan negri tanjungpinang, mengadili tersangka bendahara DPRD kota tanjungpinang, Adi Purwanto karna menyangkut kasus pinjaman 24 orang anggota legislatif yang di ambil dari khas daerah pada tahun 2006 yang lalu tujuh ratus juta lebih.
Dari cuplikan kasus diatas dapat diambil sebuah kesimpulan betapa giatnya para anggota legislatif ini meburu pulus, walaupun itu byukan hak nya, tetapi yang terpints di benak mereka adalah bagaimana menyiasati pemilu yang akan datang supaya bisa mendulang sura yang sebanyak banyak berkat politik uang tersebut.
Bahwa kampanye memerlukan dana itu sudah pasti. Terutama untuk biaya perjalanan, pasang iklan, cetak brosur, sablon kaos, ongkos penyelenggaraan forum forum pertemuan dan sejenisnya. Tetapi ketika uang dibelanjakan untuk dibagi bagi semata demi membeli suara, maka yang akan menjadi pemenang bukannya gagasan dan integritas, melainkan uang.
Di sini hukum pasar berlaku, siapa berduit banyak, dia yang memiliki daya tawar tinggi.Rakyat bukannya memilih pemimpin, tetapi menggadaikan nalar sehatnya ditukar dengan uang. Belum lagi ekses konflik dan perseteruan antarpara pendukung para calon. Kalau kondisi ini berjalan terus,maka semakin sempurnalah kehancuran bangsa ini, baik oleh tangan luar maupun oleh putra-putra bangsa sendiri.
Begitu mahalnya sebuah jabatan,namun juga betapa busuk baunya.Orang mendaki jabatan yang begitu tinggi dan terjal hanya untuk mencari tempat jatuh yang juga tinggi dan amat menyakitkan.
Mahasiswa Indonesia tikam Frofesor Singapore
02.10
jakarta,(kepriONE) - Pihak Kedutaan Besar Indonesia di Singapura membenarkan ada mahasiswa Indonesia tewas bunuh diri setelah sebelumnya menikam profesornya. Namun identitas mahasiswa tersebut masih belum bisa diumumkan.
"Kami sudah dapat informasi dari kepolisian di sini. Ada mahasiswa bunuh diri setelah menikam profesornya. Sekarang ini sudah kita laporkan ke Jakarta. Kita baru mendapatkan akses besok untuk melihat secara langsung mayatnya," ujar salah pejabat protokoler konsuler Kedubes RI di Singapura, Djatmiko kepada detikcom, Senin (2/3/3009).
Menurut Djatmiko, identitas mahasiswa tersebut masih belum bisa dibuka. Lantaran pihak kepolisian Singapura masih menyembunyikan identitasnya. "Namanya sudah ada tapi belum kita disclose sekarang, baru besok. Kita harus ngecek dulu, belum sampai detil itu (alamat di Indonesia)," kata Djatmiko.
Dia menambahkan, KBRI di Singapura mendapat informasi tentang insiden ini dari pihak kepolisian setempat sekitar pukul 11.00 waktu setempat. "Saat ini kita belum tahu identitasnya. Masih ada di polisi," imbuhnya.
Djatmiko pun siap mengurus jenazah mahasiswa tersebut sampai tiba di Tanah Air, termasuk mengurusi segala administrasi saat mayat masih di Suingapura.
Peristiwa berdarah inu terjadi di kampus Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Seorang profesor Teknik Informatika ditikam oleh seorang mahasiswa tahun terakhir di kantornya pagi tadi.
David Hartanto Dikenal Pintar dan Ramah
Mahasiswa Indonesia yang menikam profesornya di Singapura lalu bunuh diri, David Hartanto, dikenal pintar dan ramah oleh rekan-rekannya di Nanyang Technology University.
Penelusuran detikcom menyebutkan, David adalah lulusan SMK Penabur I, Jakarta. Selama sekolah David dikenal jago Matematika. Karena kepintarannya itulah David diterima di Nanyang.
Selama sekolah di SMK Penabur I, David cukup populer. Beberapa kali pria 22 tahun ini masuk majalah sekolah.
Bobi Marah Besar "Keberadaan Melayu Square dan ocean corner tidak jelas"
21.03
Tanjungpinang, (kepriOne)-Keberadaan Melayu Square sebagai pusat jajanan di Tanjungpinang menuai protes keras dari berbagai LSM.diantara nya LSM KAMI (Komite Amanat Masyarakat Independent) bahkan Direktur Eksekutip KAMI, La ode Kamarudin menilai keberadaan Melayu Square dan Ocean Corner sarat dengan KKN,
“kawasan Melayu square dan Ocean corner tersebut adalah, untuk pasilitas umum apalagi Melayu Square itu di peruntukan untuk jalur hijau yang sama sekali tidak boleh di alih pungsikan penggunaan nya, menurutnya kalau pun itu mau di alih pungsikan harus melalui persetujuan dewan, artinya pihak pemko mengirimkan surat permohonan kepada dewan legislatip untuk penggunaan pasilitas umum tersebut” tegas La ode.
“Sementara yang kita lihat sekarang ini, ada nya ikut campur pihak ketiga (investor swasta) dalam mengelola asset daerah ini, kalau yang sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi, sebab yang mengelola asset daerah kan sudah ada perusda, nah sekarang kenapa kok bisa pihak ketiga mengelolanya tanpa persetujuan Dewan legislatip” ujarnya.
Reaksi keras juga di ucapkan ketua DPRD kota Tanjungpinang, Bobi Jayanto, melihat penomena ini, malahan Bobi kelihatan marah besar, karna selama ini Pemko tidak pernah sama sekali membicarakan atau persentasikan dengan pihak legislative mengenai pemamfaatan Fasilitas umum, aplagi di kontrakan kepada pihak ketiga” tegas bobi.
Selain itu kata Bobi, pemko tidak pernah melaporkan berapa besar sumbangan pihak pengelola termasuk Fsilitas Umum lainya yang ada di tanjungpinang, sementara itu kata ketua Dewan peraih Muri ini, ia menyesalkan tidak di perhatikan nya kebersihan lingkungan termasuk air bersih dan limbah sisa sisa makanan. Dalam hal ini Bobi menilai pihak pengelola hanya mengejar keuntungan saja dari pedagang kaki lima.
Sekali lagi Bobi menegaskan, kalau perlu untuk menunjang usaha pariwisata Pemko harus membangun dengan tatanan khas budaya melayu yang lebih professional, sehingga pendapatan asli daerah meningkat, tutur Bobi.
Pengamatan Koran ini, Melayu square memang telah menjadi sebuah titik keramaian di Tanjungpinang meskipun bentuknya semakin hari semakin tak terurus. Apalagi beberapa tempat berjualan itu yang tadinya merupakan bangunan kayu sekarang sudah berubah menjadi semi permanen.
Sementara itu, direktur eksekutiv KAMI La Ode Kamarudin menilai, penyidik selama ini hanya melihat keberadaan melayu square sebatas pelanggaran perda saja tetapi kalau penyidik betul btul jeli melihat lebih dalam lagi bukan tidak mungkin akan bermuara kepada unsure KKN melihat dari pada prosedur yang dilakukan oleh pihak pemko tidak wajar
Menciptakan Demokrasi Tanpa Tumbal
20.59oleh:Hendrianto
Terkadang kita merasa Bosan daan jengkel setiap menyaksikan berita di media cetak dan elektronik yang mengabarkan kericuhan dan perusakan fasilitas umum, berita seperti ini hampir setiap hari terjadi dan di tayangkan, kita merasa prihatin setiap kali menyaksikan tindak kekerasan (anarkisme) yang terjadi di antara saudara-saudara kita sebangsa dan senegara. Kekerasan yang seringkali muncul akhir-akhir ini terkait dengan pemilihan kepala daerah (pilkada), contohnya saja Pilkada Jatim baru baru ini, bahkan Pilkada Jatim ini merupakan Pilkada paling boros dan membingungkan serta menjadi catatan kritis atas pelaksanaan Pilkada di tanah air
Dimana keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) untuk membatalkan keputusan KPU No 30/2008 pada 11 November 2008 dengan mengulang pemungutan suara di dua daerah Bangkalan dan Sampang serta melakukan penghitungan ulang di kabupaten Pamekasan.
Meski ini baru keputusan pertama dalam sejarah MK, keputusan pengulangan pilkada menajdi terbosan hukum baru dalam pelaksanaan pilkada. Padahal, bila merujuk UU No 12/2008 tentang Pemda, pilkada ulang dapat dilakukan jika terjadi force major yang berupa bencana alam dan kerusuhan. Di pilkada Jatim, dua hal tersebut terjadi.
Mempertanyakan kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Panitia Pengawasan (Panwas) harus disematkan pada dua institusi resmi penyelenggara dan pengawas pilkada di Indonesia, tak terkecuali di wilayah Jawa Timur. Terbukti dalam pilkada Jatim, baik KPU Provinsi Jatim maupun Panwas tidak maksimal menjalankan tugas konstitusionalnya. Selain masalah Pilkada yang membuat ricuh.
Kita menyadari bahwa para hakim dan juga anggota KPU adalah manusia biasa. Mereka bisa salah dan bisa benar. Mereka memiliki kelebihan dan juga banyak kekurangan. Hanya karena posisi dan kedudukannya, mereka mempunyai ‘hak prerogatif’ yang tidak dimiliki orang lain. Hak prerogatif ini semakin penting dan juga sensitif karena menyangkut kepentingan orang lain, kepentingan orang banyak.
Kesalahan keputusan, baik sedikit dan apalagi banyak, akibatnya bisa sangat fatal. Kesalahan itu bisa disengaja dan bisa tidak disengaja. Disengaja apabila keputusan mereka membawa kepentingan diri sendiri dan kelompok. Sedangkan keputusan yang salah namun tak disengaja bisa karena salah menafsirkan hukum dan bukti-bukti yang menguatkannya.
Apa pun, ketetapan Anda sekalian para pengambil keputusan hakim, anggota KPU dan pejabat publik lainnya harus dipertanggungjawabkan. Anda bertanggungjawab kepada masyarakat dan Tuhan Sang Maha Pembalas lagi Maha Kuasa. Kesalahan Anda dalam memutuskan, apalagi yang disengaja, akan dituntut dunia akhirat. Jangan sampai keputusan Anda akan membawa penyesalan seumur hidup.
Di sisi lain, masyarakat juga tidak perlu berbuat anarkis manakala mendapatkan fakta yang tidak memihak kepada mereka. Fakta yang dianggap tidak adil dan merugikan kepentingan mereka. Bahwa keadilan dan kepentingan harus diusahakan dan diperjuangkan kita sangat sepakat dan bahkan mendukungnya. Namun, perjuangan itu tidak perlu dilakukan dengan kekerasan. Perjuangan harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, apalagi untuk sebuah tujuan yang baik pula.
Kekerasan yang terjadi seringkali melibatkan sekelompok masyarakat melawan kelompok masyarakat lainnya. Atau sekelompok masyarakat melawan aparat keamanan. Boleh jadi anggota masyarakat atau aparat keamanan yang terlibat bentrok itu adalah tetangga kita. Boleh jadi mereka saudara dan teman-teman kita. Minimal mereka adalah saudara-saudara sebangsa dan setanah-air. Adakah kita rela menyakiti, apalagi menyebabkan kematian pada saudara-saudara kita sendiri?
Sebagai contoh sebuah demokrasi yang buruk terjadi baru baru ini terjadi di Medan dimana Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut), Abdul Aziz Angkat tewas setelah dikeroyok demonstran. Peristiwa itu terjadi seusai Sidang Paripurna DPRD Sumut. Massa kecewa karena tuntutan agar pemekaran Provinsi Tapanuli diputuskan dalam sidang paripurna tidak ditanggapi pimpinan Dewan.
Melihat fenomena seperti ini marilah kita menelaah lebih jauh lagi kedepan, Apakah demontrasi ini harus di iringi dengan anrkis ? tentu tidak, karna perbuataan Anarkis ini sudah pasti akan menimbulkan korban baik harta benda maupun nyawa. Untuk itu, marilah kita hindari cara-cara kekerasan, demokrasi yang benar itu adalah tercapainya sebuah tujuan yang menguntungkan orang banyak tanpa ada tumbal. Masalah Demokrasi yang dilakukan dengan anarkisme di medan, bukan hanya Ketua DPRD Sumut saja yang jadi korban tetapi juga Kapolda Sumut dan Kapoltabes Medan harus melepaskan jabatan nya dan segera hengkang dari tanah asal Naga Bonar ini.
Satu hal lagi yang paling rentan menyulut emosi masyarakat Indonesia, yaitu menyangkut masalah agama, sering kita lihat di layar televise di beberapa daerah terjadi ricuh hanya menyangkut perbedaan kepercayaan, termasuk kepada kelompok masyarakat yang kita anggap melakukan ajaran sesat atau tidak mengikuti ajaran suatu agama yang benar. Contoh nya tindak anarkisme yang terjadi pada jamaah Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya akhir-akhir ini sangat memprihatinkan.
Bahwa aliran sesat dan ajaran yang tidak sesuai dengan Islam yang benar harus dilarang tentu sudah tegas aturannya, termasuk fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kita juga sepakat bahwa aliran sesat dan kelompok menyimpang itu harus diluruskan. Namun, cara meluruskannya tidak boleh dengan anarkisme.
Bukankah setiap umat beragama, terutama umat Islam diajarkan untuk menyebarkan kedamaian? Bukankah setiap kali shalat kita mengakhirinya dengan doa dan meminta kedamaian.? Justru itu poenulis mengajak saudara saudara sebangsa dan setanah air untuk menciptakan Demokrasi tanpa harus mengorbankan nyawa orang lain atau disebut juga dengan “Demokrasi Tanpa Tumbal”
Justru itu mari kita belajar dari pelaksanaan demokrasi di amerika, maka menghadapi tahun politik 2009 yang sudah didepan mata , dimana bangsa Indonesia akan diperhadapkan pada dua agenda Politik Nasional, yaitu Pemilihan Umum untuk memilih Wakil-wakil Rakyat yang akan duduk dalam lembaga-lembaga perwakilan baik DPR, DPD, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/ Kota serta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, maka sudah selayaknya kita menunjukkan peningkatan kualitas dalam berdemokrasi. Bangsa ini harus keluar dari culture politik yang tidak kondusif dalam membangun kehidupan demokrasi.
Perilaku-perilaku menyimpang dalam berdemokrasi, seperti saling hujat, perilaku anarki, bentrokan fisik antar pendukung pasangan calon ataupun partai politik, ketidaksiapan dalam menerima hasil proses demokrasi, serta perilaku elit politik yang masih mengedepankan kekuasaan dari pada kepentingan dan harapan masyarakat sebagaimana yang nampak dalam beberapa kasus yang mengemuka pada pelaksanaan Pilkada di beberapa daerah di Indonesia harus dapat dibawa dalam suasana politik yang lebih elegan dan beradab. Kita harus memahami bahwa demokrasi bukanlah sesuatu yang given, tetapi merupakan hasil dari suatu usaha bersama dari semua komponen masyarakat. Karena itu, demokrasi harus senantiasa diupayakan dan diusahakan dengan senantiasa mengembangkan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan politik bangsa.
Dalam konteks inilah, maka pelaksanaan Pemilu tahun 2009 bagi rakyat Indonesia akan menjadi ujian bagi kualitas demokrasi di Negara ini. Karena itu, menjadi kewajiban dari semua elemen bangsa untuk sama-sama memaknai proses demokrasi pada pemilu mendatang dengan perilaku politik yang dewasa dan beradab, baik elit politik, pelaku politik, pelaksana pemilu maupun rakyat pemilih. Seluruh rakyat Indonesia memiliki harapan yang sama bahwa kita ingin proses demokrasi yang akan berlangsung di Negara ini dapat mempertontonkan eksistensi kita sebagai salah satu Negara Demokrasi terbesar di dunia. Amerika sudah memberikan pelajaran bermAkna bagi seluruh dunia tentang indahnya proses demokrasi itu, dan saatnya Indonesia juga membuktikan hal yang sama pada Pemilu 2009.